Syifa Choerunnisa Fauziyah Usman

Minggu, 10 April 2011

Teori Belajar dan Pembelajaran


BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


A. Hakikat Belajar
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat.
Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar mempunyai keuntungan, baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Bagi individu, kemampuan untuk belajar secara terus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi ( Bell-Gredler, 1986). Pengertian belajar itu cukup luas dan tidak hanya sebagai kegiatan di bangku sekolah saja.
bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya.Dengan demikian, belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.



1. Pengertian Belajar
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, secara etimologi belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu (Fudyartanto, 2002).Sedangkan menurut Hilgrad dan Bower (Fudyartanto, 2002), belajar (to learn) memiliki arti:
a. to again knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study
b. to fix in the mind or memory: memorize;
c. to acquire trough experience;
d. to become in forme of to find out
Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
Dalam hal ini, banyak ahli yang mengemukakan pengertian pelajar.Pertama, Cronbach (1954), menurut Cronbach, “Learning is shown by change in behavior as result of experience”. Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Pendapat ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Spears
(1955), yang menyatakan bahwa “Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction”.
Kedua, Morgan dan kawan-kawan (1986), yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.
Belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku disebabkan adanya reaksi terhadap suatu situasi tertentu atau adanya proses internal yang terjadi di dalam diri seseorang. Perubahan ini tidak terjadi karena adanya warisan genetic atau respon secara alamiah, kedewasaan, atau keadaan organisme yang bersifat temporer, seperti kelelahan, pengaruh obat-obatan rasa takut, dan sebagainya. Melainkan perubahan dalam pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi, atau gabungan dari semuanya (Soekamto & Winataputra, 1997).
Woolfolk (1995) juga menyatakan bahwa “learning accurs when experience causes a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior”. Disengaja atau tidak, perubahan yang terjadi melalui proses belajar ini bisa saja ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya, kearah yang salah.
Sedangkan para ahli pendidikan memandang bahwa belajar adalah proses perubahan manusia kearah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.
2.Ciri-Ciri Belajar

Dari beberapa definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar yaitu :
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change Behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi  tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengetahui ada tidak adanya hasil belajar;
b. Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah. Tetapi, perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup;
c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial;
d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman;
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.

3. Prinsip-Prinsip Belajar
Di dalam tugas melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar berikut (Soekamto dan Winataputra, 1997).
a.   Apa pun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain.  Untuk itu, siswalah yang harus bertindak aktif.
b.  Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.
c.  Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
d.  Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan  membuat proses belajar lebih berarti.
e.  Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.




B. Proses Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati.
Menurut Gagne (Winkel, 2007), proses belajar, terutama belajar yang terjadi di sekolah, itu melalui tahap-tahap atau fase-fase : motivasi, konsentrasi, mengolah, menggali 1, menggali 2, prestasi dan umpan balik. Tahap-tahap atau fase- fase tersebut digambarkan dalam tabel 1.1. (lihat lampiran)
1.Dalam proses belajar, tahap pertama adalah sebagai berikut :
a.       Tahap motivasi. Tahap motivasi, yaitu saat motivasi dan keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit.
b.      Tahap Konsentrasi, yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian, yang telah ada pada tahap motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari.
c.       Tahap Mengolah, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalamShortTermMemory, atau tempat penyimpanan ingatan jangka pendek , kemudian mengolah informasi-informasi untuk diberi makna (meaning) berupa sandi- sandi sesuai dengan penangkapan masing-masing.
d.      Tahap Menyimpan, yaitu siswa menyimpan simbol- simbol hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam Long Term Memory (LTM) atau gudang ingatan jangka panjang. Pada tahap ini hasil belajar sudah diperoleh, baik baru sebagian, maupun keseluruhan. Perubahan-perubahan pun sudah terjadi, baik perubahan-perubahan, sikap, maupun keterampilan.
e.       Tahap Menggali, yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dengan informasi baru yang dia terima. Ini terjadi pada pelajaran waktu berikutnya yang merupakan kelanjutan pelajaran sebelumnya. menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM untuk persiapan fase prestasi, baik langsung maupun melalui STM. Tahap menggali 2 diperlukan untuk kepentingan kerja, menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan atau soal/latihan.
f.       Tahap Prestasi, informasi yang telah tergali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar. Hasil belajar itu, misalnya, berupa keterampilan mengerjakan sesuatu, kemampuan menjawab soal atau menyelesaikan tugas.
g.      Tahap Umpan Balik, siswa memperoleh penguatan (konfirmasi) saat perasaan puas atas prestasi yang ditunjukkan.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor Pertama yaitu keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat mernpengaruhi hasil belajar, terutama pancaindera. Pancaindera yang berfungsi dengan baik akan rnempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Pancaindera yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Kedua adalah Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mernpengaruhi proses belajar adalah: kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat. Kecerdasan/int1igensi siswa .
1. Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar.
Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan- kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic adalah semua faktor yang berasal dan dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu.
Dalam proses belajar, motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi intrinsic relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dan luar (ekstrinsic).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
a. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas;
b.  Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk   maju;
c. Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dan  orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya;
d. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.

Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dan luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orang tua, dan lain sebagainya.
2. Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik 1ainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajarinya.
Untuk membangkitkan minat belajar siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain,pertama, dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa untuk mengekspor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar.Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi.
3. Sikap Dalam proses belajar,
Sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses be1ajar. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau me respons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya. Baik secara positif maupun negatif (Syah, 2003)

4. Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) di definisikan sebagai kemampuan , potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah. 2003). Berkaitan dengan belajar, Salvin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar.
Individu yang telah memiliki bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap segala informasi rang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya.


b. Faktor-faktor eksogen/eksternal.
Selain karakteristik siswa atau faktor-factor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar siswa.
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
1. lingkungan sosial
a. Lingkungan sosial sekolah. Seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi proses belajar seorang siswa.
b. lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.
c. Lingkungan sosial ke1uarga. Lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat- sifat orang tua demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa.

2. Lingkungan non sosial.
 Faktor- faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah:
a. Lingkungan alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang.
b. Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
c. Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa.


C. KONSEP BELAJAR MENURUT ISLAM
Islam sebagai agama rabmah Ii al- ‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk selalu belajar. Bahkan, Allah mengawali menurunkan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan rasul-Nya, Muhammad Saw, untuk membaca dan membaca (iqra).Iqra merupakan salah satu perwujudan dari aktivitas belajar. Dan dalam arti yang luas, manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya.
1.      Konsep Belajar menurut Al-Quran dan Hadis
Sa1ah satu yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain adalah kemampuannya untuk belajar.
Karena itu, kemampuan belajar adalah salah satu di antara banyak nikmat yang diberikan Allah kepada manusia.
a.       Belajar dalam Pandangan Al-Quran dan Hadis
Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Kendati tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar, namun setiap ajaran agama, baik secara eksplisit maupun implisit, telah menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia.
Aktivitas belajar sangat baik dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu, Al- Quran dan Hadis mengajak kaum Muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang- orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.
Di dalam Al-Quran, kataal-ilm dan kata-kata turunannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah ,menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia.
Pada ayat pertama dalam surat Al- Alaq terdapat kata iqra’, yang melalui malaikat Jibril, Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk “membaca”.
Menurut Quraish Shihab (1997),igra’ berasal dan akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.
Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak, dengan kata lain, objek perintahig ra’ itu mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Beberapa hadis tentang pentingnya belajar dan menuntut ilmu, antara lain adalah: mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim; Carilah ilmu walaupun di negeri Cina Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; Para ulama ini adalah pewaris para Nabi Pada hari kiamat ditimbangkan tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.
2. Arti Penting Belajar Menurut Al-Quran
Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan, Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar.
Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar, antara lain, adalah :
a. Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan.
b. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. Apapun yang dilakukan, manusia harus mengetahui kenapa mereka melakukannya. Dengan belajar pula manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta.
c. Dengan ilmu yang dimiliki manusia melalui proses belajar, maka Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi kepada hambanya.
3. Cara Belajar
Salah satu ciri dari aktivitas belajar menurut para ahli pendidikan dan psikologi adalah adanya perubahan tingkah laku masih menurut para ahli pendidikan dan psikologi perubahan prilaku itu merupakan hasil dan kegiatan belajar yang dicapai dengan cara latihan maupun pengalaman.
Dalam Al-Quran, cara belajar untuk menghasilkan perubahan tingkah laku tersebut dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, ilmu kasbi(atau perubahan dengan cara usaha) dan yang diperoleh tanpa usaha manusia (ilmu laduni). Namun baik ilmu Laduni maupun ilmu kasbi
Dalam Al-Quran, cara belajar yang membutuhkan usaha manusia, sebagaimana dikemukan oleh Najati (2005), dapat melalui meniru (imitasi), coba-coba (trial and error), atau melalui pemikiran membuat logis.
Al-Quran mengemukakan sebuah contoh tentang bagaimana manusia belajar dengan cara meniru, yaitu peristiwa pembunuhan Habil oleh saudara kandungnya Qabil (QS Al- Mâ’idah [5]: 31 :

y]yèt7sù ª!$# $\/#{äî ß]ysö7tƒ Îû ÇÚöF{$# ¼çmtƒÎŽãÏ9 y#øx. ͺuqムnouäöqy ÏmÅzr& 4 tA$s% #ÓtLn=÷ƒuq»tƒ ßN÷yftãr& ÷br& tbqä.r& Ÿ@÷WÏB #x»yd É>#{äóø9$# yͺuré'sù nouäöqy ÓŁr& ( yxt7ô¹r'sù z`ÏB tûüÏBÏ»¨Y9$# ÇÌÊÈ
Artinya : Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya[410]. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. ( Al Maidah : 31 ).

bagaimana mengurus jenazah saudaranya lalu Allah mengirim burung gagak yang menggali tanah untuk mengubur burung gagak lain yang telah dibunuhnya. Qabil mengamati perilaku burung gagak tersebut, kemudian ia mengubur dengan mengubur jasad Habil. Pengalaman praktis dan trial and error Selain melalui cara meniru, manusia belajar dengan menggunakan pengalaman praktis dan coba-coba (trial and error). Dalam kehidupannya manusia terkadang menghadapi situasi-situasi baru yang harus dipelajari bagaimana merespon Nya atau menyekapinya. Terkadang beberapa respons tepat, tetapi kadang respons manusia terhadap yang dihadapinya bersifat coba-coba atautrial and error.
Berpikir Cara lain yang digunakan oleh manusia untuk belajar adalah berpikir. Pada saat berpikir, manusia belajar membuat solusi atas segala persoalan, mengungkapkan korelasi antara berbagai objek dan peristiwa, melahirkan prinsip dan teori, dan menemukan berbagai penemuan baru. Oleh karena itu para psikolog menyebut berpikir sebagai proses belajar yang paling tinggi.
Di antara ayat-ayat A1-Quran yang memberikan bukti, argumen, dan mendorong manusia untuk berpikir tentang kebesaran Allah adalah QS Al-Ghasyiah (88): 17-20 :
Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ n<Î) È@Î/M}$# y#øŸ2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#øŸ2 ôMyèÏùâ ÇÊÑÈ            n<Î)ur ÉA$t6Ågø:$# y#øx. ôMt6ÅÁçR ÇÊÒÈ n<Î)ur ÇÚöF{$# y#øx. ôMysÏÜß ÇËÉÈ
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? ( Al Ghasiyah  :17-20).
Surat Qaf [50]: 6- 10 :
óOn=sùr&  (#ÿrãÝàZtƒ n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#øx. $yg»oYøt^t/ $yg»¨Y­ƒyur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ uÚöF{$#ur $yg»tR÷ŠytB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry 8kŠÎgt/ ÇÐÈ ZouŽÅÇö7s? 3tø.ÏŒur Èe@ä3Ï9 7ö6tã 5=ŠÏYB ÇÑÈ $uZø9¨tRur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB %Z.t»t6B $uZ÷Gu;/Rr'sù ¾ÏmÎ/ ;M»¨Zy_ ¡=ymur ÏŠÅÁptø:$# ÇÒÈ Ÿ@÷¨Z9$#ur ;M»s)Å$t/ $ol°; Óìù=sÛ ÓÅÒ¯R ÇÊÉÈ
Artinya : Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?
      Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
                 Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).
                 Dan kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam,
                 Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, ( QS. Qaf : 6-10 ).



Surat Al- An’am [6] 74-79;
 øŒÎ)ur tA$s% ÞOŠÏdºtö/Î) ÏmŠÎ/L{ uy#uä äÏ­Gs?r& $·B$uZô¹r& ºpygÏ9#uä ( þÎoTÎ) y71ur& y7tBöqs%ur Îû 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇÐÍÈ šÏ9ºxx.ur ü̍çR zOŠÏdºtö/Î) |Nqä3n=tB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur tbqä3uÏ9ur z`ÏB tûüÏYÏ%qßJø9$# ÇÐÎÈ $£Jn=sù £`y_ Ïmøn=tã ã@ø©9$# #uäu $Y6x.öqx. ( tA$s% #x»yd În1u ( !$£Jn=sù Ÿ@sùr& tA$s% Iw =Ïmé& šúüÎ=ÏùFy$# ÇÐÏÈ $£Jn=sù #uäu tyJs)ø9$# $ZîÎ$t/ tA$s% #x»yd În1u ( !$£Jn=sù Ÿ@sùr& tA$s% ûÈõs9 öN©9 ÎTÏöku În1u žúsðqà2V{ z`ÏB ÏQöqs)ø9$# tû,Îk!!$žÒ9$# ÇÐÐÈ $£Jn=sù #uäu }§ôJ¤±9$# ZpxîÎ$t/ tA$s% #x»yd În1u !#x»yd çŽt9ò2r& ( !$£Jn=sù ôMn=sùr& tA$s% ÉQöqs)»tƒ ÎoTÎ) Öäü̍t/ $£JÏiB tbqä.ÎŽô³è@ ÇÐÑÈ ÎoTÎ) àMôg§_ur }Îgô_ur Ï%©#Ï9 tsÜsù ÅVºuq»yJ¡¡9$# šßöF{$#ur $ZÿÏZym ( !$tBur O$tRr& šÆÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÐÒÈ
Artinya : Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar[489], "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."
Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.
Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat."
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. . ( QS. Al-An’am : 74-79 )
Surat Al-Shâffât [37]: 95 :
tA$s%     tbrßç7÷ès?r& $tB tbqçGÅs÷Ys? ÇÒÎÈ
Artinya : Ibrahim berkata: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu ? ( QS. Ash-Shaffat : 95 ).
 Surat Al-Anbiya’ [21]: 66-67
tA$s%   šcrßç7÷ètGsùr& `ÏB Âcrߊ «!$# $tB Ÿw öNà6ãèxÿZtƒ $\«øx© Ÿwur öNä.ŽÛØtƒ ÇÏÏÈ               7e$é& ö/ä3©9 $yJÏ9ur šcrßç7÷ès? `ÏB Èbrߊ «!$# ( Ÿxsùr& šcqè=É)÷ès? ÇÏÐÈ
Artinya : Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? ( QS. Al Anbiya : 66-67 ).
Ini seperti yang dikemukakan oleh ahli perkembangan Vygotsky, yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif seseorang akan berkembang apabila dia berinteraksi dengan orang lain.
Selanjutnya, jika manusia macet dan statis dalam berpikir, manusia akan kehilangan karakteristiknya yang membedakan dirinya dengan hewan sebagaimana termaktub dalam : (QS Al-Furqan [25]: 44;
÷Pr& Ü=|¡øtrB ¨br& öNèduŽsYò2r& šcqãèyJó¡o ÷rr& šcqè=É)÷ètƒ 4 ÷bÎ) öNèd žwÎ) ÄN»yè÷RF{$%x. ( ö@t/             öNèd @|Êr& ¸xÎ6y ÇÍÍÈ
Artinya : Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). ( QS. Al Furqan : 44 ).
Surat An-Nahl [16]: 108;
šÍ´¯»s9'ré& šúïÏ%©!$# yìt7sÛ ª!$# 4n?tã óOÎgÎ/qè=è% óOÎgÏèôJyur öNÏd̍»|Áö/r&ur ( šÍ´¯»s9'ré&ur ãNèd             šcqè=Ïÿ»tóø9$# ÇÊÉÑÈ
Artinya : Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya Telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai. ( QS. An Nahl : 108 ).
Surat Al-Baqarah [2]: 2-7 :
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=øtóø9$$Î/ tbqãKÉ)ãƒur              no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZムÇÌÈ tûïÏ%©!$#ur tbqãZÏB÷sム!$oÿÏ3 tAÌRé& y7øs9Î)             !$tBur tAÌRé& `ÏB y7Î=ö7s% ÍotÅzFy$$Î/ur ö/ãf tbqãZÏ%qムÇÍÈ y7Í´¯»s9'ré& 4n?tã Wèd `ÏiB öNÎgÎn/§              ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ ¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. íä!#uqy óOÎgøŠn=tæ öNßgs?öxRr&uä             ÷Pr& öNs9 öNèdöÉZè? Ÿw tbqãZÏB÷sムÇÏÈ zNtFyz ª!$# 4n?tã öNÎgÎ/qè=è% 4n?tãur öNÎgÏèôJy            ( #n?tãur öNÏd̍»|Áö/r& ×ouq»t±Ïî ( öNßgs9ur ë>#xtã ÒOŠÏàtã ÇÐÈ
Artinya : Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat. ( QS. Al Baqarah : 2-7 ).

Surat Al-Rum [30]: 59;
šÏ9ºxx. ßìt7ôÜtƒ ª!$# 4n?tã É>qè=è% šúïÏ%©!$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇÎÒÈ
Artinya : Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. ( QS. Ar Rum : 59 ).
Surat Al-A’râf [7]: 100- 101
óOs9urr& Ïôgtƒ z`ƒÏ%©#Ï9 šcqèO̍tƒ uÚöF{$# .`ÏB Ï÷èt/ !$ygÎ=÷dr& br& öq©9 âä!$t±nS Nßg»uZö7|¹r& óOÎgÎ/qçRäÎ/              4 ßìt7ôÜtRur 4n?tã öNÎhÎ/qè=è% óOßgsù Ÿw šcqãèyJó¡o ÇÊÉÉÈ y7ù=Ï? 3tà)ø9$# Èà)tR             y7øn=tã ô`ÏB $ygͬ!$t6/Rr& 4 ôs)s9ur öNåkøEuä!%y` Nßgè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ $yJsù (#qçR$Ÿ2 (#qãZÏB÷sãÏ9            $yJÎ/ (#qç/¤Ÿ2 ÆÏB ã@ö6s% 4 šÏ9ºxx. ßìt7ôÜtƒ ª!$# 4n?tã É>qè=è% tûï͍Ïÿ»x6ø9$#           ÇÊÉÊÈ
Artinya : Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
              Negeri-negeri (yang Telah kami binasakan) itu, kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. dan sungguh Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka Telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir. ( QS. Al A’raf 100-101 ).
Surat Al-An’âm [6]: 25 :
Nåk÷]ÏBur `¨B ßìÏJtGó¡o y7øs9Î) ( $uZù=yèy_ur 4n?tã öNÍkÍ5qè=è% ºp¨ZÏ.r& br& çnqßgs)øÿtƒ þÎûur öNÍkÍX#sŒ#uä #\ø%ur               4 bÎ)ur (#÷rttƒ ¨@à2 7ptƒ#uä žw (#qãZÏB÷sム$pkÍ5 4 #Ó¨Lym #sŒÎ) x8râä!%y` y7tRqä9Ï»pgä ãAqà)tƒ              tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ÷bÎ) !#x»yd HwÎ) 玍ÏÜ»yr& tû,Î!¨rF{$# ÇËÎÈ
Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal kami Telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu." ( QS. Al A.raf : 25 ).
Surat Muhammad [47]: 24.
Ÿxsùr& tbr㍭/ytGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ
Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? ( QS. Muhammad : 24 )


4. SaranaBelajar
Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan tidak berpengetahuan namun Allah telah membekali manusia dengan sarana-sarana baik fisik maupun psikis agar manusia dapat menggunakannya untuk belajar dan mengembangkan ilmu dan teknologi untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia.
Da1am proses belajar atau mencari ilmu manusia telah diberi sarana fisik berupa indra eksternal, yaitu mata dan telinga serta sarana psikis berupa daya nalar atau intelektual
a. Sarana fisik
Dalam Al-Quran di antara indra-indra eksternal, hanya mata dan telinga yang sering disebut. Meskipun demikian, bukan berarti indra eksternal lainnya seperti pencium, peraba. dan perasa tidak mempunyai fungsi penting dalam kegiatan belajar, karena ada kalanya indra-indra tersebut membantu manusia untuk lebih mudah memahami, apa yang mereka pelajari.
b. Sarana psikis
1) Akal
Akal dapat diartikan sebagai daya pikir atau potensi inteligensi (Bastaman, 1997). Akal sebagai sarana psikis belajar, dijelaskan dalam surat Al-Nahl ayat 78 dengan kata af’idah. Menurut Quraish Shihab (1992), af’idah berarti “Daya Nalar’
yaitu potensi/kemampuan berpikir logis, kata lain “akal”. Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, af’idah itu berarti akal yang menurut sebagian orang tempatnya berada dalam jantung (qalb) sedangkan sebagian lainnya menyatakan bahwa af’idah itu terdapat dalam otak. akal identik dengan daya pikir otak yang mengantarkan pada pemikiran yang logis dan rasional.

2) Qalb
Qalbu mempunyai dua arti. yakni fisik dan metafisik Qalbu
dalam arti fisik adalah jantung(heart),
Sedangkan dalam arti metafisik, gaib dinyatakan sebagai karunia Tuhan yang halus (lathifah), bersifat ruhaniah dan ketuhanan (rabbani)
Dalam kamus Al- Munawwir (1984). arti fisikgalbu di samping “jantung” juga “hati”. Dalam pengertian nonfisik,qalb diartikan sebagai al-’aql (akal), al-dzakirah (ingatan; mental), danal- quwwah al- aqilah (daya pikir). Sementara dalam kamus Al- Maurid, qalb nonfiksi diartikan: 1) mind(akal/pikiran tersembunyi/pikiran rahasia).
Perbedaan antara akal yang ada di otak kepala dengan akal yang tersembunyi di hati ini menjelaskan dalam istilah tafakkur dan tadzakkur. Akal yang ada di kepala dilukiskan dengan istilah tafakur, sementara akal di hati dijelaskan dengan tadzakur, yakni berpikir abstrak.
D. Konsep Belajar menurut Tokoh-Tokoh Islam
Banyak. tokoh Islam yang memiliki kepedulian dan pemikirannya. tentang aktivitas belajar, di antaranya adalah AI- Ghazali dan al -Zarnuji.
1.  M-Ghazali
a. Konsep ilmu
Al-Ghazali juga dikenal sebagai salah satu tokoh sufi. Karena itu, pemikiran-pemikirannya cenderung dipengaruhi oleh ilmu tasawuf yang lebih menekankan pada masalah-masalah kerohanian kesederhanaan, dan menjauhi keduniawian.
Berkaitan dengan ilmu Al-Ghaza1i berpendapat, ilmu yang dipelajari dapat dipandang dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
b. Jenis ilmu
Menurut Al- Ghazali, ilmu terdiri dan dua jenis yaitu ilmu kasbi (husbu1i) dan ilmu ladunni (hudhuri). Ilmu kasbi adalah cara berpikir sistematik dan metodik yang. dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui Proses pengamatan, penelitian, percobaan, dan penemuan.
Sedangkan ilmu ladunni (hudburi) adalah ilmu yang diperoleh oleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya, akan tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya Ilahi dalam qalb.
Menurut Al-Ghazali, dalam proses belajar mengajar sebenarnya terjadi aktivitas ekplorasi pengetahuan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan perilaku.
A1-Ghazali menganalogikan menuntut ilmu dengan menggunakan proses belajar mengajar ini seperti seorang petani (guru) yang menanam benih (ilmu yang dimiliki oleh guru) di tanah (murid)sampai ia menjadi pohon (perilaku).
Kemudian A1-Ghaza1i membagi tahap-tahap abstraksi pada empat tahap.Pertama, terjadi pada indra. Ketika indra menangkap sumber objek. ia harus berada pada jarak tertentu dari objek dan dalam keadaan tertentu.Kedua, terjadi pada al- khayal Kalau pada indra, hubungannya dengan objek harus berada pada jarak tertentu dan situasi tertentu, sedangkan pada al-khayal keharusan demikian tidak ada. A1-khayal menangkap objek tanpa melihat, tetapi tangkapannya masih meliputi aksiden-aksiden dan atribut-atribut tambahan seperti kualitas dan kuantitas (Muhammad Yassir Nasution, 1972).
2. Burhanuddin Al-Zarnuji
a. Konsep Pendidikan Al-Zarnuji tertuang dalam karya monumentalnya, kitab “Ta’lim al-Muta’allim Thuruq aI- Ta’allurn”. Dari pembahasan kitab ini, dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan Al-Zarnuji, antara lain :
1. Pengertian ilmu dan keutamaannya;
2. Niat belajar
3. Memilih guru, ilmu, teman dan
4. hormati ilmu dan ulama;
5. Ketekunan, kontinuitas, dan cita-cita luhur;
6. Permulaan insensitas belajar serta tata tertibnya;
7. Tawakkal kepada Allah swt
8. Masa belajar
9. Kasih sayang dan memberi nasihat;
10.Mengambil pelajaran;
11.wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram) pada masa belajar
12. penyebab hafal dan lupa
13. masalah rezeki dan umur.

b. Metode pembelajaran
Dalam kitab Ta’lim Muta’allirn Al-Zarnuji menjelaskan bahwa metode pembelajaran meliputi dua kategori.Pertama, metode yang bersifat etik mencakup niat dalam belajar.Kedua, metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman, dan langkah-langkah dalam belajar.
b.      Pemikiran A1-Zarnuji tentang pola hubungan guru murid
Ada beberapa pemikiran Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim yang memberi acuan terhadap pola hubungan guru dan murid.
1. Murid tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat tanpa adanya pengagungan dan pemuliaan terhadap ilmu dan orang yang mengajarnya (guru), menjadi semangat dan dasar adanya penghormatan murid terhadap guru.
2.  Kontekstualisasi hubugan guru murid, menurut Al-Zarnuji, menunjukkan bahwa penempatan guru pada posisi terhormat terkait oleh sosok guru yang ideal.
3. Dalam bahasa Al-Zarnuji, guru ideal adalah guru yang alim, wira’i dan mempunyai kesalehan sebagai aktualisasi keilmuan yang dimiliki serta tanggung jawab terhadap amanat yang diemban untuk menggapai ridha Allah Swt.


E. KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME
Beberapa para peneliti yang melakukan studi tentang belajar antara lain Ivan Pavlov, Edward Lee Throndike, Guthrie, Burrhus Frederic Skinner, dan Hull.
1.      Ivan Pavlov
Akhir 1800-an, Ivan Pavlov, ahli fisika Rusia memelopori munculnya proses kondisioning responden (respondent conditioning) atau kondisioning klasik (clasical conditioning), karena itu disebut kondisioning Ivan Pavlov.
a. Teori belajar kondisioning klasik (classical conditioning)
Pavlov mengamati, jika daging diletakkan dekat mulut anjing yang lapar anjing akan mengeluarkan air liur. Hal ini terjadi karena daging telah menyebabkan rangsangan kepada anjing, sehingga secara otomatis ia mengeluarkan air liur.
Daging tersebut dengan stimulus yang tidak terkondisi (unconditioned stimulus). Dan karena saliva terjadi karena otomatis pada dekat anjing tanpa latihan atau pengondisian, maka keluarnya saliva pada anjing tersebut dinamakan sebagai respons yang tidak dikondisikan (un response conditioning).
Menurut eksperimen Pavlov, jika stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang terkondisikan (conditioning stimulus) dan memiliki kekuatan yang sama untuk mengarahkan respons anjing seperti ketika melihat anjing seperti ketika melihat daging.
b. Hukum-Hukum Kondisional Klasik

Pavlov akhirnya menemukan beberapa hukum pengondisian, yaitu pemerolehan (acquisition), pemadaman (extinction), generalisasi (generalization), diskriminasi (discrimination), dan kondisioning tandingan (Davidoff, 1981).

c. Penerapan prinsip-prinsip kondisioning klasik dalam kelas
Berikut ini beberapa tips yang ditawarkan oleh Woolfolk (1995) dalam menggunakan prinsip-prinsip kondisioning klasik di kelas.
1. Memberikan suasana yang meyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, misalnya:
a. menekankan pada kerja sama dan kompetisi antar kelompok dari individu
b. membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan menciptakan ruang membaca (reading corner) yang nyaman dan enak serta menarik, dan lain sebagainya.
2. Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi- situasi yang mencemaskan atau menekan, misalnya:
a. mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi pelajaran;
b. membuat tahap jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka panjang,
c.   jika siswa takut berbicara di depan kelas, mintalah siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk di tempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah dia untuk membaca laporan di depan seluruh murid di kelas.
3. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-  situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat. Misalnya,dengan:
a. Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sekolah yang lebih tinggi tingkatannya atau perguruan tinggi.
b. Menjelaskan bahwa lebih baik menghindari hadiah yang berlebihan dari orang yang tidak dikenal, atau menghindar tetapi aman dan dapat menerima
    penghargaan dari orang dewasa ketika orang tua ada .

2. Edward Lee Throndike
Throndike adalah psikologi Amerika yang pertama kali mengadakan eksperimen hubungan S-R dengan hewan kucing melalui prosedur dan apparatus yang sistematis (Fudyartanto, 2002). Eksperimennya yaitu:
a.kucing yang lapar dimasukkan dalam kerangkang (puzzle box) yang dilengkapi alat pembuka bila disentuh;   b. di luar kotak di taruh daging. Kucing dalam kerangkang bergerak ke sana kemari mencari jalan untuk ke luar, tetapi gagal c. pada suatu ketika kucing tanpa sengaja menekan sebuah tombol sehingga tanpa disengaja pintu kotak kerangkang terbuka dan kucing dapat memakan daging di depannya.
3. Burrhus Frederic Skinner

Teori belajar Skinner
Menurut Reber (Syah, 2003), operant adalah sejumlah prilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan dekat.
Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan dari stimulus tertentu), respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan olehreinforc er.
Kalau diamati, ternyata eksperimen skinner sama dengan eksperimen yang dilakukan oleh Throndike. Bedanya, makanan (reinforcer) pada Throndike ditunjukkkan terlebih dahulu, sedangkan pada Skinner reinforcer ditunjukkan setelah sebuah tingkah laku terjadi.
Selain hukum law effect, teori belajar conditioning ini juga tunduk pada dua hukum operant conditioning dan law extinction.
Skinner menidefinisikan belajar pada prinsipnya sebagai sebuah konsekuen Yang menguatkan tingkah laku (atau frekuensi tingkah laku). Keefektifan sebuah reinforcemen dalam proses belajar perlu di tunjukkan.
4. Edwin R Guttie
a. Teori belajar menurut Gutrie Edwin R gutrie adalah salah satu penemu teori pembiasaan asosiasi dekat (continuitas conditioning theory ). Dengan kata lain , teori ini menyatakan bahwa belajar adalah kedekatan hubungan antar stimulus dan respons relevan

b . Memutus kebiasaan Untuk menghentikan kebiasaan yang inappropriate ( tidak sesuai ), maka kebiasaan itu perlu di putus .
c. Punishment( hukuman) . Berbeda dengan reinforcemen yang tidak terlalu berperan dalam proses belajar Hukuman (punishment ) mempunyai pengaruh penting mengubah perilaku seseorang.
d. Eksperimen Gutrie
Salah satu eksperimen yang dilakukan oleh Gutrie untuk mendukung teori kontiguitas adalah percobaannya dengan kucing yang dimasukkan kedalam kotak puzel Dari hasil eksperimen tersebut, muncul beberapa prinsip dalam teori kontinuitas yaitu :
1. Agar terjadi pembiasaan maka organisma harus selalu merespons atau melakukan sesuatu ;
2. pada saat belajar melibatkan pembiasaan terhadap gerakan- gerakan tertentu , oleh karena itu instruksi yang diberikan harus spesifik
3. Keterbukaan terhadap berbagai bentuk stimulus yang ada merupakan keinginan untuk menghasilkan respons secara umum;
4. Respons terakhir dalam belajar harus benar ketika itu menjadi di sesuatu yang akan diasosiasikan ;
5. Asosiasi akan menjadi lebih kuat karena ada pengulangan.
 
5.      Clark hull

Hull telah mengembangkan sebuah teori dalam versi behaviorisme ia menyatakan bahwa stimulus (s) mempengaruhi organisme (o) dan menghasilkan respons (R) itu tergantung pada karakteristik O dan S . dengan kata lain Hull telah berminat terhadap studi yang mempelajari variabel intervening yang mempengaruhi perilaku seperti dorongan atau keinginan, insentif , penghalang dan kebiasaan. Teori Hull ini disebut dengan teori mengurangi dorongan ( drive reductin theory ).
Namun , lepas dari kelebihan yang dimilikinya teori belajar behavioristik ini
juga memiliki kelemahan-kelemahan ( Syah,2003 ) antara lain:
1. proses belajar dipandang sebagai kegiatan yang diamati langsung , padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalui gejalahnya;
2.  Proses belajar dipandang bersifat otomatis –mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau robot , padahal manusia mempunyai keampuan self regulation danself control yang bersifat kognitif.
3. Proses belajar manusia yang dianalogikakan dngan hewan sangat sulit diterima , mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antara hewan dn manusia.
E. Teori Gestalt
Psikologi kognitif muncul dipengaruhi oleh psikologi gestalt, dengan tokoh-tokohnya seperti Wolfgang, Kohler, dan Kurt Koffka. Berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh tokoh behaviorisme, terutama Thorndike, yang menganggap bahwa belajar sebagai trialand error, teori Gestalt ini memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight).
Eksperimen I
Simpanse dimasukkan dalam sangkar atau ruangan dan di dalam sangkar tersebut terdapat sebatang tongkat. Di luar sangkar diletakkan sebuah pisang. Problem yang dihadapi oleh simpanse adalah bagaimana simpanse dapat mengambil pisang tadi untuk dimakan. Pada awalnya dimasukkan sangkar, simpanse berusaha untuk mengambil pisang tersebut, tetapi selalu gagal karena tangannya tidak sampai untuk mengambil pisang tersebut. Kemudian simpanse melihat sebatang tingkat dan timbul pengertian untuk meraih pisang tersebut dengan menggunakan tongkat itu.
Eksperimen II
Problem yang dihadapi oleh simpanse masih sama dengan eksperimen I, yaitu pisang masih ada di luar sangkar. Akan tetapi pisang tersebut dapat diraih jika tongkat dapat disambung. Jadi ada dua batang tongkat dalam sangkar yang dapat disambung.
Eksperimen III
Problem yang dihadapi diubah, yakni pisang diletakkan di gantung diatas sangkar sehingga simpanse tidak dapat meraih pisang tersebut. Di sudut sangkar diletakkan sebuah kotak yang kuat untuk dinaiki oleh simpanse, maka timbullah pemahaman (insight) dalam diri simpanse, yakni menghubungkan kotak tersebut dengan pisang. Lalu kotak tersebut diambil dan ditaroh tepat di bawah pisang. Selanjutnya, simpanse menaiki kotak dan akhirnya ia dapat meraih pisang tersebut.
Exsperimen IV
Sama dengan eksperimen tiga, pisang ditaruh di atas sangkar dan ada kotak, hanya saja pada eksperimen ini ada dua kotak yang dapat disambung untuk dinaiki dan digunakan untuk meraih pisang. di atas sangkar.
Proses belajar yang menggunakan insight (insightful learning) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Suryabrata, 1990)
1.  Insight tergantung pada kemampuan dasar
2.  Insight tergantung kepada pengalaman masa lampau
3.  Insight tergantung kepada pengaturan situasi yang dihadapi.
4.  Insight didahului dengan periode mencari dan mencoba- coba
5. Solusi problem dengan menggunakan insight dapat diulang dengan mudah, dan akan berlaku secara langsung
6. Jikainsight telah terbentuk, maka problem pada situasi-situasi yang lain akan dapat dipecahkan.



F.  KONSEP BELAJAR KONSTRUKTIVISME
1. Pandangan Konstruktivisme tentang Belajar
Salah satu pandangan tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri.
Secara filosifis, belajar menurut teori konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Oleh karena itu. Slavin (1994) mengatakan bahwa proses belajar dan pembelajaran siswa harus siswa harus terlibat aktif dan siswa menjadi pusat kegiatan belajar dan pembelajaran di kelas.
2. Akar Sejarah Konstruktivisme
Revolusi konstruktivisme mempunyai sejarah akar yang kuat dalam sejarah pendidikan. Perkembangan konstruktivisme dalam belajar tidak terlepas dari usaha keras Jean Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh ini menekankan bahwa perubahan kognitif ke arah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang diterima melalui proses ketidakseimbangan(dis equilibrium)

3.Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti sebuah kotak-kotak yang masing- masing mempunyai makna yang berbeda-beda.
Dalam adaptasi ini Piaget mengemukakan empat konsep dasar (Nirhadi 2004) yaitu Skemata, asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
Pertama, skemata. Manusia selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya ,Kedua, asimilasi. Asimilasi merupakan proses kognitif dan penyerapan pengalaman baru ketika seseorang memadukan stimulus atau persepsi ke dalam skemata atau perilaku yang sudah ada. Ketiga, akomodasi. Akomodasi adalah suatu proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengelaman baru. Keempat, keseimbangan (equilibrium).

4.Konsep Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Salah satu konsep dasar pendekatan konstruktivisme dalam belajar adalah adanya interaksi sosial individu dengan lingkungannya. Menurut Vygorsky (Elliot, 2003.52) belajar adalah sebuah proses yang melibatkan dua elemen penting . Pertama. Belajar merupakan proses secara biologis sebagai proses dasa. Kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya.
Vygorsky percaya bahwa belajar dimulai ketika seorang anak dalam perkembangan zone proximal, yaitu suatu tingkat yang dicapai oleh seorang anak ketika ia melakukan perilaku sosial. Zone ini juga dapat diartikan sebagai seorang anak yang tidak dapat melakukan sesuatu sendiri tetapi memerlukan bantuan kelompok atau orang dewasa.
Menurut Vygotsky, pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif telah melahirkan konsep perkembangan kognitif. Vygotsky membagi perkembangan kognitif yang didasarkan pada perkembangan bahasa menjadi empat tahap (Ellio, 2003) yaitu preintellectual speech, naive psychology dan
egocentric speech, dan inner speech Preintelectual speech yaitu tahap awal dalam perkembangan kognitif ketika manusia baru lahir, yang ditunjukkan dengan adanya proses dasar secara biologis (menangis mengoceh, dan gerakan-gerakan tubuh seperti menghentakkan kaki, menggoyangkan tangan) yang secara perlahan-lahan berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna seperti berbicara dan berperilaku.

Naive psychology, yaitu tahap kedua dari perkembangan bahasa ketika seorang anak `mengeksplore' atau menggali objek-objek konkret dalam dunia mereka.
Egocentricspeech, Tahap ini terjadi pada anak usia 3 tahun. Inner speech. Tahap ini memberikan fungsi yang penting dalam mengarahkan perilaku seseorang.
Ide dasar lain dari teori belajar, Scaffolding adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan tersebut setelah anak mampu untuk memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya.
5. Strategi Belajar Konstruktivisme
Pendekatan belajar konstruktivisme memiliki beberapa strategi dalam proses belajar. Strategi belajar (Slavin, 1994) tersebut adalah:
a.  Top down processing.
b. Cooperative learning
c.  Generative Learning.Strategi ini menekankan pada adanya integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skema.

6.      Model-Model Pembelajaran Berdasarkan Prinsip-Prinsip Konstruktivisme

Beberapa model pembelajaran yang didasarkan pada konstruktivisme adalah discover learning; assisted learning, active learning, the accelerated learning, quantum learning, dan contextual teaching and learning.

1.      Discovery learning
Salah satu model pembelajaran kognitif yang paling berpengaruh adalah discovery learning nya Jerome Bruner (Slavin, 1994), yaitu siswa didorong untuk belajar dengan diri mereka sendiri. Discovery learning telah banyak aplikasinya dalam keilmuan. Discovery learning mempunyai beberapa keuntungan dalam belajar, antara lain siswa memiliki motivasi dari diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai mereka menemukan jawaban-jawaban atas problem yang dihadapi mereka.

2.      Assisted learning

 Assisted learning mempunyai peran yang sama perkembangan kognitif individu. Vygotsky menyatakan bahwa perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi dan percakapan  seorang anak dengan lingkungan sekitarnya, baik dengan teman sebaya, orang lain dalam lingkungannya.
Jerome Bruner menyebut bantuan orang dewasa dalam proses belajar anak dengan istilah Scaffolding, yaitu sebuah dukungan untuk belajar dan memecahkan problem.
3.      Active Learning

Active learning artinya pembelajaran aktif. Menurut Melvin L. Silberm- belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus.
Menurut Silberman, cara belajar dengan cara mendengar- kan akan lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbagus dengan mengajarkan.
4.      The accelerated learning

The accelerated learning adalah pembelajaran yang dipercepat Pemilik konsep ini, Dave Meier, menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic Auditory Visual,d an Intellectual (SAVI) Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar
dengan bergerak dan berbuatAuditory adalah learning by talking hearing
(belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visualartinya learning dengan mengamati dan menggambarkan.intellektual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan
masalah dan melakukan refleksi)

5.    Quantum learning
Quantum di definisikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Sedang learning artinya belajar. Belajar bertujuan meraih sebanyak cahaya: interaksi, hubungan, dan inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. Dengan demikian quantum learning adalah cara pengubahan bermacam-macam interaksi hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2000) Dalam praktiknya,quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan neurolinguistik dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 2000).
6.    Contextual teaching and learning (CTL)

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan situasi dunia nyata siswa membuat hubungan antar pengetahuan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Murhadi; Yasin, Burham Senduk A Gerad, 2004),
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkanya adalah berikut ini:
1.  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri menemukan dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2. Langsungkan sejauh mungkin kegiatan inquiti untuk semua topik
3.
  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya;
4 Ciptakan`masyarakat belajar" (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.
  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.  Lakukan refleksi di akhir pertemuan;
7.  Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Proses belajar dalam experiential learning juga didasarkan pada pengalaman, sama seperti contextual teaching and learning (CTL) Kedua model belajar tersebut mempunyai konsep bahwa ilmu pengetahuan diperoleh dari memahami dan mentransformasi pengalaman.















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :

1.      Bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya.
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat.
2.      Menurut pendapat ahli pendidikan Islam yang dimaksud dengan belajar adalah :
a. Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan.
b. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. Apapun yang dilakukan, manusia harus mengetahui kenapa mereka melakukannya. Dengan belajar pula manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta.
c. Dengan ilmu yang dimiliki manusia melalui proses belajar, maka Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi kepada hambanya.





DAFTAR PUSTAKA



Baharuddin dan Wahyuni Nur, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta, 2010 Ar-Ruzz Media

Simandjuntak dan IL. Pasaribu, Psikologi Perkembangan, Tarsito, Bandung. 1981

Nata Abuddin, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta, 2009, Prenada Media Group

_________________, Metodologi Studi Islam, Jakarta, 2003, Raja Grafindo Persada

Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta 1995, Bumi Aksara
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Jakarta, 2000
________________, Psikologi Belajar Mengajar,Bandung :Sinar baru algensindo,th 2010
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta, 1997

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 1995
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta, 1987W.H. Burton, The Guidances of Learning Activities, Appleton Century Crofts, New York, 1952

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar