Syifa Choerunnisa Fauziyah Usman

Jumat, 01 April 2011

Analisis Kurikulum di Belanda dan Implikasinya


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Belanda hanya sebuah Negara kecil di Eropa bagian barat laut. Di sebelah timur negara ini berbatasan dengan Jerman, di sebelah selatan dengan Belgia dan di sebelah barat dengan Laut Utara. Belanda memiliki daerah yang luasnya kira-kira 42,000 kilometer pesergi (16,216 mil pesergi), berpenduduk kira-kira 15,807,641 jiwa (World Almanac 2000), dan merupakan salah satu Negara kecil diantara Negara-negara masyarakat Eropa dan termasuk yang terpadat penduduknya. Negara Belanda terbagi dalam 12 propinsi. Sebagian besar penduduknya tinggal di tiga propinsi barat, yaitu : Holland Utara, Holland Selatan, dan Utrecht.

Pada abad 19 kelas kelas social masyarakat didasarkan terutama atas garis- garis keturunan. Sedangkat abad 20 berkembang struktur masyarakat yang lebih bersifat meritokrat, yang lebih mengejar keuntungan, dengan menjadikan pendidikan sebagai factor penting untuk menentukan status. Pada tahun 1953, Dewan Sosial dan ekonomi Belanda telah menyusun tujuan utama social-ekonomi sebagai berikut : Pendapatan Negara yang lebih tinggi, Kebijakan pendapatan yang proposional dan yang akseptabel, Tidak ada pengangguran, Stabilitas harga, Penggajian yang stabil dan adil.
Walaupun kecil Negara ini bisa menjadi perhatian dunia. Banyak kelebihan-kelebihan yang dimilikinya seperti pada bidang ekonomi, budaya, prestasi olahraga dunia, dan yang terkhusus dalam bidang pendidikan. Pendidikan di Belanda sangat ditekankan dan menjadi salah satu masalah prioritas pemerintah, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi/universitas. Maka tidak aneh mulai dari system pendidikan dasar di Belanda hingga pendidikan tinggi/universitas itu berkualitas. Dunia sendiri mengakui akan prestasi Belanda didunia pendidikan, terbukti 11 dari universitas di Belanda masuk ranking 200 universitas terbaik didunia. Penelitian juga menunjukkan bahwa mereka yang pernah studi di universitas atau institusi pendidikan tinggi Belanda memiliki kinerja yang sangat baik di manapun mereka berada.  Untuk negara kecil seperti Belanda, orientasi internasional, termasuk pendidikan dan pelatihan merupakan keharusan untuk dapat bertahan di tengah arus dunia yang semakin internasional. Karena terjadi krisis ekonomi yang mengakibatkan deficit anggaran yang cukup besar maka terjadilah pemotongan anggaran pendidikan yang cukup besar terjadi pada tahun 1983, sebagian melanda gaji pegawai (dari keseluruhan anggaran pendidikan, 82% adalah untuk gaji). Kementerian Pendidikan dan Ilmu pengetahuan terpaksa mengurangi pengeluarannya sampai f 1,000 juta (guilders) pada tahun 1986.

Di Belanda tersedia dua jenis pendidikan tinggi reguler yang utama: universitas dan University of Applied Sciences. Universitas melatih para mahasiswanya untuk menggunakan ilmunya secara mandiri. University of Applied Sciences, yang di Belanda dikenal dengan sebutan Hogeschool, lebih berorientasi ke praktek; para mahasiswa langsung diarahkan untuk meraih jenjang karir di bidangnya.  Belanda juga memiliki lembaga Institut Pendidikan Internasional  yang sudah sejak lama menawarkan program-program yang dirancang khusus bagi mahasiswa asing.

Di Belanda ada 14 universitas, tiga diantaranya memiliki spesialisasi di bidang teknik. Pada prinsipnya, universitas ini melatih mahasiswa menjadi ilmuwan dan pakar di salah satu bidang ilmu, namun banyak program studi juga mengarah ke lingkup profesional, sehingga kebanyakan alumninya dapat bekerja di luar lingkungan riset. Besar kecilnya universitas berdasarkan banyaknya jumlah mahasiswa, sangat bervariasi, berkisar antara 6000 sampai 30.000 mahasiswa.
Belanda merupakan negara non berbahasa Inggris pertama yang menawarkan program studi berbahasa Inggris. Lebih dari 1300  program studi internasional untuk berbagai bidang ditawarkan oleh pendidikan tinggi Belanda. Kurikulumnya intensif pada level yang lebih tinggi, lebih maju, berorientasi pada praktek dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan sesuai harapan mahasiswa yang mencari pengetahuan khusus. Program-program studi ini menggantikan teori dengan praktek di dunia kerja yang sebenarnya atau situasi simulasi kerja. Sebagian besar program-program studi tersebut dirancang untuk memperoleh gelar sarjana (S1), master, PhD atau doktor, diploma atau bersertifikat.

Total jumlah mahasiswa di seluruh universitas tercatat 185,000 orang. Program studi yang ditawarkan oleh University of Applied Sciences (UAS) berorientasi pada praktek. Pengalaman praktek kerja yang diperoleh melalui magang merupakan bagian dari keseluruhan program studi professional. Ada 44 University of Applied Sciences di Belanda. Yang terbesar adalah dengan jumlah mahasiswa mencapai 20.000 – 39.000. Jumlah keseluruhan yang terdaftar di jenis pendidikan tinggi ini mencapai sekitar 350.000 mahasiswa.

Sejak lebih dari 50 tahun lalu Belanda menawarkan studi lanjutan dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau yang dikenal dengan “Pendidikan Internasional”.  Ke-11 institut ini memfokuskan pada program studi yang terkait dengan pembangunan, berbasis pada kerja kelompok dalam skala kecil, pertukaran pengetahuan dan interaksi antar mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya, yang difasilitasi oleh pengajar yang memiliki pengalaman kerja di negara-negara berkembang.

Pengetahuan Tujuan kebijaksanaan penelitian & ilmu pengetahuan di Belanda adalah untuk mempertahankan tatanan penelitian yang efektif dan bermutu tinggi. Pemerintah menciptakan kondisi-kondisi (misalnya peraturan & subsidi dana) dan menetapkan prioritas.
Walaupun Menteri Pendidikan & Ilmu Pengetahuan mengkoordinir kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan menetapkan garis-garis besar, tiap menteri bertanggung jawab bagi penelitian dan pelaksanaan ilmu pengetahuan dalam masing-masing bidang.

Disamping subsidi langsung oleh pemerintah, lembaga-lembaga penelitian (sebagian besar me-rupakan bagian dari universitas) dapat meng-gunakan dana yang dikelola oleh Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen (Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda) atau KNAW dan Nederlandse Organisatie voor Wetenschappelijk Onderzoek (Organisasi Belanda untuk Penelitian Ilmu Pengetahuan) atau NWO atau dana yang ditawarkan oleh dunia usaha atas dasar pendidikan kontrak dan atau penelitian kontrak.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis dapat merumuskan dan memberi batasan masalah didalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana system kurikulum pendidikan yang diterapkan di Belanda serta implikasinya terhadap dunia pendidikan?
2.      Bagaimana institusi pendidikan di Belanda dalam peningkatan mutu pendidkan .?
3.      Bagaimana perbandingan pendidikan di Belanda dan di Indonesia serta implikasinya terhadap mutu pendidikan.?


C.     Tujuan Pembahasan
Pada tujuan pembahasan makalah ini yang akan didiskusikan dan dipresentasikan dalam seminar kelas diantaranya :
1.      Agar mengetahui system kurikulum pendidikan yang diterapkan di Belanda serta implikasinya terhadap dunia pendidikan
2.      Agar mengetaui institusi pendidikan di Belanda dalam peningkatan mutu pendidkan .
3.      Agar dapat membandingkan pendidikan di Belanda dan di Indonesia serta implikasinya terhadap mutu pendidikan.












BAB II
PEMBAHASAN
ANALISIS KURIKULUM BELANDA DAN IMPLIKASINYA

A.     SISTIM PENDIDIKAN DI BELANDA

Sistem pendidikan di belanda sedikit berbeda dengan indonesia. Jika di Indonesia, rata-rata orang belajar 3 atau 6  tahun setelah SD, maka di belanda belum tentu setiap orang harus menempuh jalur itu. Ketika orang belanda lulus dari elementary school, maka nasib mereka sudah mulai ditentukan dari sini. Mereka akan mengikuti semacam ujian. Dari hasil ujian itu akan dibagi menjadi 3 level, yaitu VMBO, HAVO, dan WO.
Jika siswa itu mempunyai kemampuan akademis yang rendah maka sejak awal mereka diarahkan untuk mengikuti VMBO selama 3 tahun dan MBO selama satu tahun. Setelah lulus dari MBO  siswa dapat langsung bekarja.
Jika siswa itu mempunyai kemampuan akademis yang lebih baik, maka dia dapat mengikuti HAVO selama 5 tahun. Setelah lulus dari HAVO siswa dapat mengikuti HBO, di Indonesia mungkin setara dengan universitas juga, tetapi yang membedakan universitas dan HBO
adalah HBO lebih menggunakan ilmu terapan. ( Tuk gelar HBO biasanya universitas tersebut bergelar dengan Hogeschool )
Siswa yang mempunyai kemampuan akademis tertinggi, berhak mengikuti WO selama 6 tahun dan kemudian dapat mendaftar Universitas, layaknya sistem pendidikan di Indonesia.
Jika siswa dari tingkatan yang lebih rendah ingin mengikuti sistem pendidikan yang lebih tinggi mereka dapat mengikuti program standarisasi.
Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah bagaimana dengan gaji yang mereka terima dalam pekerjaan, apakah berbeda antara level  yang satu dengan yang lain? Jawabannya ya, ada perbedaan, tetapi perbedaan upah ini tidak seperti langit dan bumi yang kita alami di indonesia. Perbedaan itu tidak terlalu signifikan sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Keadilan benar-benar ditegakkan sehingga kemakmuran di negeri ini benar-benar merata. Menurut pribadi penulis, Indonesia pun bisa lebih makmur daripada negara ini, asalkan keadilan ditegakkan dengan sungguh2. Kita punya sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang sangat besar, kurang apalagi coba? Mari kita bangun Indonesia.. !!!!
Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang dikenal di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Di Eropa sendiri, sistem pendidikan ala Belanda hanya dikenal oleh beberapa negara, antara lain Jerman dan Swedia. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda adalah  penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikan di tingkat dasar dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan akademis dari siswa yang bersangkutan.
            Secara umum, sistem penjurusan tersebut dapat dikategorikan sebagai    berikut:
  • Pendidikan tingkat dasar dan lanjutan (primary en secondary education)
  • Pendidikan tingkat menengah kejuruan (senior secondary vocational education and training)
  • Pendidikan tingkat tinggi (higher education)
            Kategori-kategori di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Pendidikan tingkat dasar dan lanjutan (primary en secondary   education)
Pendidikan tingkat dasar di Belanda mulai diwajibkan sejak anak berumur 5 tahun dan berlangsung selama kurang lebih 8 tahun (7 tahun di antaranya merupakan wajib belajar). Di tahun terakhir para siswa sudah dianjurkan untuk memilih pendidikan lanjutan yang akan mereka jalani. Pendidikan lanjutan yang dimulai sejak siswa berumur 12 tahun dan diwajibkan sampai umur 16 tahun ini diberikan dalam beberapa tingkatan: VMBO program (4 tahun) memberikan pendidikan yang merupakan gabungan dari pendidikan umum dan kejuruan, dimana lulusannya bisa melanjutkan ke pendidikan tingkat menengah kejuruan (senior secondary vocational education and training). Sedangkan 2 jenis tingkat pendidikan yang memberikan akses langsung ke sistem pendidikan tingkat tinggi (higher education) adalah HAVO (5 tahun) dan VWO (6 tahun) yang merupakan pendidikan selektif. Lulusan dari VWO bisa mendapatkan akses langsung ke Universitas sedangkan lulusan HAVO bisa mendapatkan akses langsung ke HBO (hogeschool/universities of profesional education). Dua tahun terakhir di HAVO atau tiga tahun terakhir di VWO merupakan tahun penjurusan untuk memilih bidang pilihan mereka. Dalam penjurusan ini mereka dapat memilih satu d iantara empat jurusan yaitu:
           1. science and technology (ilmu teknologi/fisika)
           2. science and health (ilmu kesehatan)
           3. economic and society (sosial ekonomi)
           4. culture and society (sosial dan budaya)
      2. Pendidikan tingkat menengah kejuruan (senior secondary  vocational education and training)
Pendidikan tingkat menengah kejuruan yang dikenal dengan tingkatan MBO (4 tahun) diberikan dalam beberapa jurusan, antara lain: ekonomi, teknik, kesehatan, perawatan diri, kesejahteraan dan pertanian. Program MBO diberikan dalam 4 tingkatan (1-4 tahun) dan hanya lulusan dari tingkat 4 MBO saja yang dapat memiliki akses ke HBO.
      3.  Pendidikan tingkat tinggi (higher education)
Pendidikan tingkat tinggi di Belanda terdiri atas 2 bagian, yaitu HBO (hogeschool/universities of profesional education) dan WO (research universities). Hogeschool memberikan pendidikan yang bersifat siap guna untuk siswa yang ingin langsung terjun ke lapangan pekerjaan praktis, sedangkan Universitas memberikan pendidikan yang bersifat spesifik /penjurusan berdasarkan ilmu – ilmu murni. Pada setiap tahun pertama HBO/WO dilakukan penyaringan yang disebut dengan masa propedeuse. Dalam proses ini, setiap siswa diwajibkan menyelesaikan mata pelajaran tahun pertama mereka dalam waktu dua tahun. Jika siswa tersebut gagal, maka dia akan dikeluarkan dari jurusannya (Drop Out/DO).
Setelah tahun 2002, pemerintah Belanda memberlakukan sistem pendidikan tingkat tinggi (higher education) baru. Pada sistem baru ini, pendidikan tingkat tinggi dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu: Bachelor dan Master (BAMA), serta Phd degree. Walaupun menurut peraturan baru lulusan dari HBO maupun WO mempunyai gelar yang sama/setara, ada beberapa perbedaan yang mencolok antara kedua institusi tersebut dalam penerapan sistem Bachelor – Master (BAMA) serta Phd degree, yaitu:
    4.   HBO (hogeschool/universities of profesional education):
Bachelor degree dapat diperoleh setelah menyelesaikan program di hogeschool dengan mengumpulkan kredit sebanyak 240 ECTS/European Credit Transfer Sistem (selama 4 tahun). Lulusan program Bachelor dari hogeschool hanya berhak menggunakan titel Bachelor yang berkaitan dengan jurusannya contoh: Bachelor of engineering, Bachelor of nursing dll.
Master degree dapat diperoleh setelah menyelesaikan program master di hogeschool dengan mengumpulkan kredit sebanyak 60 atau 120 ECTS (1 atau 2 tahun). Lulusan program Master dari hogeschool hanya berhak mengunakan titel Master yang berkaitan dengan jurusannya contoh: Master of social work, Master of business dll.
    5.    WO (research universities):
Bachelor degree dapat diperoleh setelah menyelesaikan program di universitas dengan mengumpulkan kredit sebanyak 180 ECTS/European Credit Transfer Sistem (selama 3 tahun). Lulusan program Bachelor dari universitas berhak mengunakan titel Bachelor of Science dan Bachelor of Arts (BA/BSc) tergantung dari jurusan yang diambil.
Master degree dapat diperoleh setelah menyelesaikan program di universitas dengan mengumpulkan kredit sebanyak 60, 90 atau 120 ECTS (1, 1,5 atau 2 tahun). Lulusan program Master dari universitas berhak menggunakan titel Master of Science dan Master of Arts (MA/MSc) tergantung dari jurusan yang diambil.
            Sedangkan gelar PhD hanya bisa diperoleh melalui program di WO  (research universities).
   6.   Syarat – syarat untuk memasuki pendidikan tingkat tinggi (higher education) di Belanda
Untuk memasuki HBO (hogeschool/universities of profesional education) setiap calon siswa diwajibkan memiliki ijazah HAVO atau ijazah MBO level 4 atau yang setara dengannya. Sedangkan untuk memasuki WO (research universitas), setiap calon siswa diwajibkan memiliki ijazah VWO. Karena adanya keterbatasan tempat, beberapa program WO (research universities) memakai sistem undian dalam proses penerimaan (contoh: jurusan kedokteran).
Sementara itu, siswa potensial yang berumur lebih dari 21 tahun boleh memasuki pendidikan tingkat tinggi di Belanda setelah berhasil lulus tes masuk dari bada
n pendidikan yang bersangkutan.
Lulusan program Bachelor dari WO yang ingin masuk ke program Master di WO (research universitas) kadang – kadang perlu menjalani test extra jika memilih jurusan yang berbeda. Sementara untuk lulusan program Bachelor dari HBO (hogeschool/universities of profesional education) yang ingin memasuki program Master di WO (research universities) diwajibkan untuk memasuki 1 tahun persiapan di WO (research universities) sebelum memulai program dengan jurusan yang sudah dipilih. Hal tersebut juga berlaku bagi lulusan program Master dari HBO yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat Phd di WO (research universities).
      7.   Sistem kredit dan penilaian
Sejak tahun 2002 sistem pendidikan di Belanda menggunakan sistem kredit/point ECTS (European Credit Transfer Sistem) yang berlaku hampir di seluruh Eropa. Satu kredit mewakili 28 jam kerja/studi di kampus (belum termasuk jam pelajaran di rumah/pribadi) dan 60 kredit mewakili 1 tahun ajaran penuh. Sementara, sistem penilaian sama sekali tidak ada perubahan dari system sebelumnya, yaitu dari skala 1 (sangat rendah) sampai 10 (sangat memuaskan) dengan nilai lulus paling rendah adalah 6. Umumnya nilai 9 sangat jarang diberikan, nilai 10 dianggap sangat aneh jika didapatkan, dan penilaian dari 1 – 3 sangat jarang sekali digunakan.
     8.   Akreditasi dan jaminan kualitas sistem pendidikan di Belanda
Sejak tahun 2002 akreditasi sistem pendidikan tinggi di Belanda di atur oleh Netherlands – Flemish Accreditation Organization (NVAO). Dalam sistem tersebut, NVAO memberikan akreditasi kepada suatu program pendidikan dalam satu periode selama 6 tahun. Program yang menerima akreditasi dari NVAO sajalah yang akan memperoleh bantuan subsidi dari pemerintah Belanda dan berhak mengeluarkan gelar yang diakui oleh pemerintah Belanda.
Semua program yang diakreditasi oleh NVAO dicantumkan di Central Register of Higher Education Study Programmes (CROHO). Saat ini NVAO sedang mereview semua program studi yang ada di Belanda (tahun 2006), dan sampai proses tersebut selesai, semua program yang tercantum di CROHO dianggap diakui oleh hukum.
Sementara itu departemen pendidikan juga Belanda memiliki sistem akreditasi yang berbeda dengan NVAO, yaitu: Program yang disubsidi/dibiayai oleh negara dan program yang diakui oleh negara tetapi tidak mendapatkan subsidi/biaya dari negara. Apapun bentuk akreditasi dari departemen pendidikan Belanda, semua program yang ada di Belanda harus diakreditasi dan didaftarkan oleh NVAO untuk dapat diakui sebagai program yang terpercaya.
Perlu diingat bahwa badan pendidikan tinggi di Belanda diwajibkan mencantumkan status akreditasi program mereka di ijazah yang akan diberikan bagi lulusan program tersebut dan status akreditasi yang ada di ijazah kelulusan tersebut berlaku permanent. Jadi,  sebaiknya calon siswa meneliti terlebih dahulu apakah jurusan yang dipilih sudah terakreditasi atau belum.

B.     BASISSCHOOL DAN RAPORT DI BELANDA

Basisschool (Sekolah Dasar) di Belanda berlangsung 8 tahun, terhitung dari grup 1 (kelas 0 Kecil di Indonesia), grup 2 (kelas 0 Besar di Indonesia) dan grup 3 s/d grup 8 (kelas 1 s/d 6 Sekolah Dasar di Indonesia). Basisschool menurut UU Pendidikan Belanda wajib diikuti oleh setiap anak di Belanda, pribumi mau pun pendatang asing, yang mencapai usia 5 tahun. Orang tua yang lalai mendaftarkan/mengirim anaknya ke sekolah, akan didenda bahkan dapat dipenjara. Tidak ada alasan tidak punya uang sebab Basisschool di Belanda gratis, bahkan sampai dengan universitas, pemerintah Belanda membiayai seluruh biaya pendidikan dengan uang pendapatan pajak negara. Di Belanda tercatat ada sekitar 7000 Basisscholen dengan 135.000 tenaga pengajar, 9000 kepala sekolah dan 1,5 juta siswa.
Raport siswa di Basisschool memuat 44 butir pendidikan. Banyaknya items yang harus dinilai oleh Basisschool membuat pihak sekolah betul-betul dapat mengenali bakat, mentalitas dan budaya para siswanya. Basisschool bertugas menstimulir bakat, menggembleng mentalitas dan mengembangkan budaya para siswanya dalam suasana demokratis dan sportif, sehingga tercipta generasi penerus Belanda yang bukan cuma pandai, tapi juga berakhlak luhur. 44 butir pendidikan di Basisschool adalah:
Bahasa Belanda (11 butir):
1. Teknik membaca
2. Pemahaman teks
3. Entusiasme saat membaca
4. Perbendaharaan kata
5. Teknik mengeja
6.TataBahasa
7. PekerjaanRumah
8.Mengarang
9.Kemampuanberargumentasi
10.Kemahiran mengucap/berbicara

11. Menulis tebal tipis.



Presentasi (4 butir):
12. Referensi Buku
13. Guntingan Koran
14. Bercerita di depan kelas
15. Membuat skripsi kecil
World Orientation (5 butir):
16. Ilmu Bumi
17. Pengetahuan Sumber Daya Alam
18. Ilmu Sejarah
19. Ilmu Alam20. UU Lalu Lintas
Mentalitas Siswa (7 butir):
21. Konsentrasi dalam kelas
22. Kecepatan bekerja
23. Ketelitian bekerja
24. Upaya untuk mencapai prestasi
25. Kemandirian dalam bekerja
26. Kerjasama dengan sesama siswa
27. Penampilan
Ekspresi Siswa (4 butir):
28. Melukis
29. Pekerjaan tangan
30. Musik
31. Sandiwara

Olahraga (2 butir):
32. Permainan
33. Gerak badan
Kelakuan siswa (3 butir):
34. Kelakuan di kelompok sesama siswa
35. Kelakuan di luar kelas sesama siswa
36. Kelakuan terhadap pengajar
Pekerjaan Rumah (2 butir):
37. Belajar sendiri
38. Membuat tugas
Katekese (1 butir):
39. Partisipasi
Berhitung (5 butir): 
40. Berhitung umum
41. Berhitung di luar kepala
42. Latihan berhitung
43. Menghitung
44.Penguasaan hitungan
44 butir penilaian yang ada di dalam Raport setiap siswa Basisschool di atas masih ditambah dua materi ekstra kurikuler, yaitu Berenang dan Bersepeda.
Belanda adalah negara di bawah permukaan air laut, di mana-mana ditemukan air, maka seminggu sekali siswa-siswa Basisschool menuju kolam renang terdekat dengan sekolah mereka. Semua biaya renang dibayar oleh Departemen Pendidikan Belanda. Akan ada ujian renang resmi dan setiap siswa wajib menggondol diploma renang level terendah.
Bersepeda adalah hidup rakyat Belanda. Di Belanda ada 18 juta sepeda dibanding 16,4 juta penduduknya, alias setiap warga Belanda rata-rata memiliki 1,1 sepeda. Siswa Basisschool wajib belajar mengendarai sepeda dan belajar Peraturan Lalu Lintas. Akan ada ujian Lalu Lintas Bersepeda teori dan praktek yang diselenggarakan oleh Korps Kepolisian setempat. Siswa yang lulus menerima Diploma Lalu Lintas resmi dari Korps Kepolisian. Semua biaya kursus bersepeda dan ujian dibayar oleh Departemen Pendidikan Belanda.
Di Sekolah Menengah kegiatan seni, musik, olahraga masih digeluti oleh siswa, selain mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Sejarah, Ilmu Bumi, Bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Latin dan Yunani. Meski tak ada kurikulum khusus “mengganyang korupsi”, sistim pendidikan Dasar dan Menengah di Belanda ini terbukti mampu memproduksi generasi penerus Belanda yang bersih korupsi. Di mana persis letak rahasianya? Hal itu pasti telah dipelajari oleh bu Yulita dkk. yang dikirim oleh Neso/Nuffic ke Belanda memakai beasiswa yang disediakan oleh Departemen Luar Negeri Belanda.
C.     INSTITUSI PENDIDIKAN DI BELANDA

Di Belanda ada 2 macam institusi pendidikan tinggi. Yang pertama adalah HBO atau hoger beroepsonderwijs, yang terjemahan  bebasnya dalam bahasa Indonesia “pendidikan kejuruan tinggi”, dan WO atau wetenschappelijk onderwijs yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia “pendidikan sains”.
Institusi yang berjenis HBO biasanya disebut Hogeschool (sekolah tinggi) atau kadang-kadang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi University of Applied Science. Di Indonesia HBO ini dapat disetarakan dengan politeknik, dan lulusannya diharapkan dapat langsung bekerja, tapi biasanya tidak terlalu banyak dibekali pengetahuan teoritis, lebih banyak praktis. Contoh Hogeschool ini misalnya Haagse Hogeschool di Den Haag dan INHolland yang mempunyai kampus di Amsterdam, Alkmaar, Haarlem, Den Haag, Delft, dan Rotterdam. Contoh jurusan yang ditawarkan di Hogeschool ini misalnya keperawatan, staf untuk pendidikan dan pendidikan khusus, turisme, teknik elektro, teknik informatika, marketing, manajemen, dll. Pendidikan HBO lamanya 4 tahun, dan lulusannya mendapat gelar Bachelor. Sekarang banyak juga Hogeschool yang menyediakan program master, yang lamanya 1-2 tahun setelah Bachelor.
Di lain pihak institusi berjenis WO biasanya disebut Universiteit (universitas) atau Technische Universiteit (universitas teknik). Dalam bahasa Inggris institusi seperti ini biasanya disebut University dan University of Technology. Universiteit biasanya mempunyai ruang lingkup yang luas,  dan jurusan yang ditawarkan bisa meliputi bahasa, seni, pendidikan, teknik, sains, dll. Contoh Universiteit misalnya Universiteit Leiden, Universiteit van Amsterdam, Vrije Universiteit (VU, Universitas Bebas) Amsterdam, Universiteit Utrecht, Rijksuniversiteit (universitas kerajaan) Groningen, dll. Ada juga universitas yang terspesialisasi ke arah pertanian, kehutanan, dan bioteknologi, misalnya Universiteit Wageningen.   Technische Universiteit atau sering disingkat TU biasanya hanya menawarkan jurusan-jurusan yang berbau sains dan teknik, kadang-kadang ditambah dengan desain. Hanya ada 3 buah TU di Belanda, yaitu TU Delft, TU Eindhoven, dan TU Twente. Perbedaan antara universitas biasa dan TU sekarang ini sering kali kabur, dan teman-teman lebih baik memfokuskan diri pada jurusan yang ditawarkan, ketimbang memilih jenis universitasnya. Universitas dan TU juga memberikan gelar Bachelor dan Master, tapi lama pendidikannya berbeda dengan Hogeschool. Di Universitas dan TU Bachelor bisa diraih setelah 1-2 tahun studi, dan Master 2-3 tahun setelah Bachelor (total lama studi untuk master 3-4 tahun). Tapi ini adalah teorinya, pada kenyataannya banyak mahasiswa yang molor waktu studinya. Hanya Universitas/TU yang dapat memberikan gelar doktor, yang biasanya diraih setelah melakukan riset sekitar 4 tahun setelah master.
Penyebab perbedaan lama pendidikan untuk gelar yang sama di Hogeschool dan Universiteit/TU  adalah perbedaan jenis sekolah menengah yang lulusannya dapat masuk ke institusi jenis HBO dan WO. Untuk bisa masuk ke HBO, seorang murid Belanda harus menyelesaikan 5 tahun pendidikan setelah sekolah dasar (8 tahun) di sekolah menengah berjenis HAVO (hoger algemeen voortgezet onderwijs) atau “sekolah lanjutan atas umum”, sedangkan untuk masuk WO pendidikan menengah yang harus ditempuh lamanya 6 tahun setelah sekolah dasar di sekolah menengah berjenis VWO (voorbereidend wetenschappelijk onderwijs) atau “sekolah persiapan sains”. Lulusan HAVO tidak dapat langsung melanjutkan ke WO, tapi bisa masuk dengan cara mengulang setahun di VWO, atau masuk dulu ke HBO, dan setelah setahun pindah ke WO. Sebenarnya masih ada satu lagi jenis sekolah menengah di Belanda, yaitu yang disebut VMBO (voorbereidend middelbaar beroepsonderwijs) atau “sekolah persiapan untuk pendidikan kejuruan menengah” yang ditempuh dalam waktu 4 tahun setelah sekolah dasar. Lulusan VMBO bisa langsung meneruskan ke MBO (middelbaar beroepsonderwijs) atau “sekolah kejuruan menengah” yang lamanya 4 tahun, dan setelah itu bisa langsung bekerja. Lulusan VMBO tidak bisa langsung meneruskan ke HBO, apalagi ke WO. Untuk masuk ke HBO, lulusan VMBO dapat mengulang setahun di HAVO, atau setelah lulus dari MBO dapat masuk ke HBO. Pemilihan jenis sekolah menengah yang akan diikuti, apakah VMBO, HAVO, atau VWO, secara prinsip ditentukan oleh peserta didik sendiri, tapi biasanya didasarkan pada hasil tes yang dilakukan pada akhir sekolah dasar. Sebagai catatan sekolah dasar di Belanda dimulai pada umur 4 tahun (kelas 1 dari 8). Walaupun tampaknya ada diskriminasi, lulusan VMBO, HAVO, dan VWO secara umum semuanya bisa hidup dengan layak di Belanda. Salah satu faktor penting adalah usia mulai bekerja, misalnya VMBO-MBO sekitar 19 tahun, sedangkan HAVO-HBO (bachelor) 21 tahun, dan VWO-WO (master) 22-23 tahun. Juga tiap jenis pendidikan mempunyai lingkup pekerjaan tersendiri, yang tidak bisa dimasuki oleh lulusan pendidikan lain. Misalnya untuk menjadi tukang instalasi listrik di rumah, perusahaan tidak boleh menerima lulusan universitas. Untuk lulusan sekolah menengah di Indonesia, biasanya bisa langsung masuk ke HBO atau WO.

D.    PERBANDINGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN   BELANDA
Pada masa colonial sekolah pertama didirikan di Ambon. Untuk anak Indonesia krn anak Belanda belum ada Tujuan melenyapkan agama katolik,menyebarkan protestan. Pendidikan utk kecerdasan belum lahir.
Th 1630 an didirikan sekolah di Jakarta untuk anak Indonesia & Belanda.Tujuan menjadi tenaga kerja yang kompeten untuk VOC. Pendidikan untuk penyebaran agama Kristen.
Pengajarannya individual. Problem bahasa pengantar.
Tahun 1816 an.sekolah bagi anak Belanda.
Kurikulum mengalami perubahan radikal. Dipengaruhi ide liberalisme, orang menaruh kepercayaan akan kekuasaan pengetahuan yg diperoleh melalui penelitian empiris. Pendidikan bukan lagi memupuk rasa takut pada Tuhan melainkan ditujukan pada pengembangan intelektualitas.
Sekolah bagi anak Indonesia. Pendidikan untuk anak kaum ningrat yang punya kekuasaan.
Pendidikan untuk mendidik anak menjadi pegawai perkebunan – seiring dengan tanam paksa.



Sebelum reorganisasi 1892.
Sekolah rendah sebelum 1892 sekolah yang sederhana, fasilitas tidak    memadai.
Sekolah di luar Jawa melebihi Jawa, lambat laun Jawa menjadi pusat pendidikan.
Sekolah rendah diizinkan memperluas programnya sehingga mendekati rencana Sekolah Guru.
Karena krisis Belanda mengeluarkan kebijakan diferensiasi dalam pendidikan  anak-anak golongan atas dan rendah.
Sekolah Kelas Satu.
Khusus kaum bangsawan. Lama 5 tahun. Kebanyakan di Jawa.Dimasukkan bahasa Belanda dalam kurikulum.
Sekolah ini masih ketinggalan dibandingkan sekolah rendah untuk bangsa Belanda.
Tidak memberi persiapan yang cukup untuk menjadi pegawai rendah dan Tidak membuka kesempatan untuk melanjutkan pelajaran.Bahasa belanda diajarkan sejak kelas satu.
Perpanjangan belajar menjadi 7 tahun.
Sekolah Kelas Dua.
Timbul karena Belanda tidak mampu menyediakan pendidikan yang sama bagi semua anak Indonesia.
Kurikulumnya dijaga jangan sampai sama dengan kelas satu. Untuk mengaburkan
Penggolongan, tetapi yang terjadi menegaskan penggolongan.
Menunjukkan Belanda tidak punya perencanaan yang komprehensif tentang pendidikan.
Sekolah trial error, dengan senantiasa mengadakan perubahan menurut keadaan zaman.
Pendidikan terus diberikan, pendidikan sederhana untuk orang banyak, dan pendidikan yang baik untuk golongan elite yang kecil.

Sekolah Desa (Volkksschool).
         Tujuan: penyebaran pendidikan seluas mungkin dengan biaya rendah, untuk kesejahteraan.
         Pemerintah memberikan bantuan keuangan. Perkembangannya baik, yang sebelumnya tdkpernah tercapai oleh sekolah penjajahan Belanda.
         Kurikulum: membaca,menulis & berhitung.
         Mulai ada pelarangan tindak kekerasan atau paksaan.
         Masih diragukan apabila diserahkan kepada desa yang dengan suka rela menyerahkan anaknya ke sekolah berdasar keputusannya sendiri.
         Angak putus sekolah tinggi, kurang minat penduduk akan lembaga pendidikan yang dipaksakan, tidak akan merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat.
         Merupakan paradoks, rakyat desa yang ekonomi lemah diharuskan mendirikan sekolah yang bermutu rendah, sedangkan golongan menengah ke atas diber pendidikan yang lebih baik tanpa keharusan mendirikan bangunannya. Tidak ada kebebasan kurikulum.
         Ada pembatasa kurikulum, harapannya lulusan tidak mampu bekerja di kantor melakukan pekerjaan administrasi, agar tidakmeninggalkan desanya.
         Tujuan utama pemberantasan buta huruf, namun tidak tercapai karena pertambahan jumlha penduduk setiap tahun.
         Sekolah desa menjadi substruktur bagi sekolah sambungan, sama dengan kedua kelas terakhir Sekolah Kelas Dua.
         Sekolah desa dikecam sebagai sekolah yang bermutu rendah. Namun sekolah ini merupakan penyebaran pendidikan yang luas, karena ada di desa, penyebar buah pikiran barat. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan. Meletakkan dasar untukpendidikan universal.
ELS (Europese Lagere School).
         Belanda mengakui kemampuan anak Indonesia dalam segala pelajaran walaupun pengantarnya bahasa Belanda.
         Pada hakikatnya pendidikan dipandang orang Belanda sebagai bahaya potensial bagi minoritas oraang Belanda yang jumlahnya 200 kali lipat.
         Pendidikan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan pegawai pemerinbtah dan perusahaan Belanda.
         Mereka memberi kesempatan seluas-luasnya anak-anak Belanda untuk sekolah.
         ELS banyak dimasuki anak Belanda yg menikahi pembantunya dari pada anak priyayi.
Pola sekolah: sekolah rendah 7 tahun.
         Selama pemerintahan Belanda tidak pernah terwujud sekolah menengah berbahasa Indonesia.
         Budaya Belanda terus dimasukkan ke rakyat Indonesia, kesadaran tidak menguasai bahasa Belanda mencekan orang Indonesia dengan rasa inferior dalam menghadapi orang Belanda.
         Kurikulum ELS ditetapkan di Nederland tidak mungkin relevan dengan kebutuhan anak Indonesia.
         ELS dipertahankan demi kepentingan segelintir anak yang mungkin kembali ke tanah airnya.
HCS (Hollands Chinese School).
         Sekolah sebagai alat politik untuk mencegah orang Cina menjadi tak loyal terhadap Belanda.
         Rasa takut kehilangan loyalitas cina mendorong Belanda menawarkan kesempatan belajar yang paling baik yang ada, yakni HCS yang membuka kesempatan untuk memasuki MULO maupun HBS.
         Lahirnya HCS menimbulkan rasa tak puas yang serius dikalangan Indonesia menuntut sekolah yang sama derajadnya.
         Bagi Belanda sulit menolaknya,apalagi setelah lahir Budi Oetomo dan Serikat Islam menjadi penyambung lidah bangsa Indonesia.
HIS (Hollands Inlandse School).
         Lahirnya HIS wajar, karena Sekolah Kelas Satu makin banyak kritikan akan kelemahannya yakni lulusan tidak memiliki kedudukan yang baik, dan lulusannya menjadi golongan yang tak puas akan keadaan.
         Desakan Budi Utomo dan Serikat Islam agar reorganisasi Sekolah Kelas Satu.
         Belanda tidak bisa mengelak karena adanya HCS (untuk Cina).
         Pembukaan HIS disukung oleh ekonomi yang meningkat, perluasan wilayah pemerintahan Belanda di luar Jawa. Menyebabkan kebutuhan pegawai berpendidikan.
         Dilema bagi belanda,dengan adanya sekolah ini menjadikan penguasaan bahsa Belanda meningkat, kekhawatiran Belanda apabila Indonesia menuntut persamaannya dengan Belanda.
         HIS titik penting bagi sejarah pendidikan Indonesia, inilah sekolah pertama untuk orang Indonesia yang memiliki kedudukan yang sama dengan oraang Belanda.
         HIS merupakan jalan utamaa untuk mobilitas sosial.
         Awalnya untuk anak elite, tetapi banyak dimasuki anak golongan rendah.
         Belanda tidak menunjukkan diskriminasi yang ketat, mereka sadar suatu saat Indonesia akan dikuasai oleh raja-raja Indonesia. Belanda menghormati raja-raja yang suatu saat akan memerintah tanah jajahannya.
         Kurikulum sudah mulai dikritik. Anak didik lebih mengenal Belanda dari pada Indonesia (Geografi, Sejarah, Budaya).
         Lembaga pendidikan ini sebagai penghasil pegawai, bukan sebagai lembaga pendidikan umum.
MULO  (Meer uitgebreid Lager Onderwus)
         Faktor didirikannya MULO, Banyaknya lulusan kelas satu; Anak Cina telah memiliki
         Kesempatan sekolah di HCS. MULO untuk membendung invasi anak-anak Indonesia
         Ke ELS. MULO sebagai lambang pendidikan nonrasial.
         Dari sekolah MULO timbul intelektual baru. Mengganti pendidikan yang tidak serasi
         Persipan calon pendidikan pegawai, ahli hukum, dokter. 


HBS (Hogere Burgerschool) dan AMS (Algemense Middelbare School).
         Sekitar tahun 1860 an anak-anak Belanda memperoleh kesempatan untuk dipersiapkan memasuki universitas di Nederland.
         HBS menyajikan kurikulum modern, Bahasa Modern, matematika, IPA.
         Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak yang akan kembali ke Nederland,
         Oleh karenanya sekolah ini dikonkordansi sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda.
         HBS satu-satunya sekolah untuk persiapan ke PT dan bermutu tinggi.
         Guru berkualitas, standar akademis yg tinggi yang dituntut dari murid-muridnya.
         Seleksi ketat untuk staff pengajar.
         HBS berorientasi penuh pada pendidikan Belanda, anak Indonesia masuk dengan syarat bahasa Perancis, yang tidak diajarkan di HIS. Namun realitanya anak Indonesia meningkat dan menunjukkan hasil yang lebih baik.

Politik Pendidikan Kolonial
1. Dualisme: Sekolah untuk anak Belanda dan pribumi. Pendidikan untuk   mempertahankan perbedaan sosial dan bukan mobilitas sosial.
2. Gradualisme: pendidikan rendah sesederhana mungkin untuk orang Indonesia.
3.  Konkordansi: Sekolah menjadi agen kebudayaan barat.
4.  Kontrol sentral yang ketat.
5.  Tidak ada perencanaan sistem pendidikan yang sistematis.
6.  Pendidikan pegawai.


BAB III
PENUTUP

            KESIMPULAN
·         Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang dikenal di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Di Eropa sendiri, sistem pendidikan ala Belanda hanya dikenal oleh beberapa negara, antara lain Jerman dan Swedia. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda adalah  penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikan di tingkat dasar dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan akademis dari siswa yang bersangkutan.
·         Basisschool (Sekolah Dasar) di Belanda berlangsung 8 tahun, terhitung dari grup 1 (kelas 0 Kecil di Indonesia), grup 2 (kelas 0 Besar di Indonesia) dan grup 3 s/d grup 8 (kelas 1 s/d 6 Sekolah Dasar di Indonesia).
·        Raport siswa di Basisschool memuat 44 butir pendidikan. Banyaknya items yang harus dinilai oleh Basisschool membuat pihak sekolah betul-betul dapat mengenali bakat, mentalitas dan budaya para siswanya.
·        Di Belanda ada 2 macam institusi pendidikan tinggi. Yang pertama adalah HBO atau hoger beroepsonderwijs, yang terjemahan  bebasnya dalam bahasa Indonesia “pendidikan kejuruan tinggi”,
·        Dan yang kedua institusi berjenis WO biasanya disebut Universiteit (universitas) atau Technische Universiteit (universitas teknik). Dalam bahasa Inggris institusi seperti ini biasanya disebut University dan University of Technology.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar